Ciri-ciri Khas Epilepsi Berdasarkan Jenis Kejang

23Agu, 2019

Kejang berulang biasanya dikaitkan dengan epilepsi dan merupakan gejala utama penyakit ini.

Epilepsi atau ayan dapat terjadi pada siapa pun. Laki-laki atau perempuan dari segala tingkatan umur bisa mengalaminya. Penyebabnya adalah gangguan pada saraf pusat akibat aktivitas listrik otak tak normal yang bisa terjadi berulang. Penderitanya akan mengalami kejang atau bertingkah laku tidak biasa, mengalami sensasi, bahkan kadang-kadang hilang kesadaran.

Gejala yang terlihat sangat bervariasi, bergantung pada jenis kejangnya. Dalam banyak kasus, seorang penderita epilepsi cenderung akan menunjukkan jenis kejang yang sama setiap kali mengalami kejang.

Dokter akan menggolongkan kejang itu apakah merupakan parsial (fokal) atau menyeluruh (umum), berdasarkan bagaimana aktivitas otak yang tidak normal tersebut. Bila kejang terjadi akibat aktivitas tidak normal pada satu bagian otak, disebut sebagai kejang parsial.

Jenis Kejang Akibat Epilepsi

Jenis kejang parsial terbagi atas dua kategori, yakni:

  • Kejang parsial simpel. Kejang ini tidak menyebabkan penderitanya mengalami hilang kesadaran, namun tangan atau kaki menyentak, atau secara spontan timbul sensasi kesemutan, pusing, dan ada kilatan cahaya.
  • Kejang parsial kompleks. Penderitanya akan hilang kesadaran, dan selama itu terlihat seperti bingung dan tidak menyadari sekelilingnya selama beberapa saat. Atau mengalami gerakan berulang, seperti tangan bergetar, mengunyah, menelan, atau berjalan berputar-putar.

Gejala yang ditunjukkan kejang parsial bisa membingungkan dengan gejala gangguan saraf lain, seperti migren, narkolepsi, atau gangguan mental. Karena itu, dokter perlu melakukan pemeriksaan lebih mendalam untuk membedakan epilepsi dengan gangguan lain tersebut.

Jenis kejang umum terjadi akibat adanya gangguan pada seluruh bagian otak, sehingga terjadi kejang di seluruh bagian tubuh. Ada enam ciri-ciri kejang umum yang diketahui.

  • Mata terbelalak saat kejang, gerakan tubuh tidak kentara, seperti mata berkedip-kedip atau bibir mengecap. Biasanya terjadi pada anak-anak saat berada dalam kerumunan dan menyebabkan hilang kesadaran.
  • Kejang tonik. Menyebabkan otot-otot tubuh menjadi kaku. Biasanya akan mempengaruhi otot-otot di punggung, lengan, dan kaki, sehingga penderita bisa jatu
  • Kejang atonik. Menyebabkan hilangnya kontrol otot, sehingga penderita tiba-tiba jatuh.
  • Kejang klonik. Ditandai dengan gerakan otot-otot menyentak berulang atau berirama. Kejang ini biasanya menyerang otot wajah, leher, dan lengan.
  • Kejang mioklonik. Biasanya muncul sebagai sentakan atau kejang sesaat pada lengan dan kaki.
  • Kejang tonik-klonik. Disebut juga kejang “grand mal” merupakan jenis kejang epilepsi yang paling dramatis, karena penderitanya dapat sangat tiba-tiba tidak sadar, badan kaku dan bergetar tidak terkontrol, hilangnya kontrol kandung kemih sehingga mengompol, dan menggigit lidahnya.

Kematian akibat epilepsi jarang terjadi. Namun, bisa saja terjadi pada kondisi berikut ini:

  • Status epileptikum. Terjadi bila penderita mengalami kejang terus-menerus lebih dari lima menit, atau jika ia sering mengalami kejang kambuhan tanpa benar-benar bisa sadar kembali di antara kejang tersebut. Penderita kejang ini berisiko tinggi mengalami kerusakan otak dan bahkan kematian.
  • Kematian mendadak dalam epilepsi. Dikenal dengan SUDEP (sudden unexpected death in epilepsy). Penderita epilepsi juga berisiko mengalami SUDEP. Belum diketahui penyebabnya, namun berbagai riset menunjukkan kejadian itu mungkin berkaitan dengan gangguan jantung atau pernapasan yang terjadi bersamaan.

Apa Itu SUDEP?

Penderita yang sering mengalami kejang tonik-klonik atau yang epilepsinya tidak dikontrol dengan pengobatan yang benar berisiko tinggi mengalami SUDEP.

Bulan Juli 2019 lalu kita dikejutkan dengan meninggalnya bintang Disney Cameron Boyce karena epilepsi pada usianya yang masih muda, 20 tahun. Ia meninggal mendadak saat tidur, diduga akibat SUDEP.

Kejang SUDEP dapat menyebabkan ketidakmampuan untuk bernapas atau tersedak pada sekresinya sendiri, sehingga menyebabkan kekurangan oksigen dan gangguan pernapasan. SUDEP diperkirakan membunuh 1 dari 1.000 orang penderita epilepsi.

Kematian mendadak akibat epilepsi paling umum terjadi pada penderita yang tak terkontrol. Keadaan kejang yang terjadi lebih dari tiga kali setahun berisiko 15 kali lebih besar menyebabkan kematian. Namun, penyebab aktor muda Boyce mengalami SUDEP tidak sepenuhnya diketahui, selain bahwa ia memang sedang menjalani pengobatan akan epilepsinya. (*Berbagai sumber)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *