Epilepsi Ini Tanda dan Gejala yang Harus Dipahami

07Agu, 2019

Epilepsi pada anak masih menjadi pertanyaan besar, bagi masyarakat Indonesia, bahkan kondisi ini tak pelak menjadi buah bibir dan tak jarang kemudian dikaitkan dengan stigma negatif, seperti; kerasukan setan, bisa menular jika kena air liurnya, dan masih banyak hal lain yang tidak masuk akal. Masih ingat dengan iklan di televisi, “Ayo di kita main bola lagi” tujuannya untuk mengedukasi masyarakat mengenai epilepsy, bahwa epilepsy itu bukan penyakit menular, bahkan bisa sembuh ketika diobati secara adekuat dan bila terdiagnosis sejak dini.

Dengan pendududuk Indonesia berkisar 270 juta jiwa. Di perkirakan penderita epilepsi di Indonesia jumlahnya mencapai 2,2 juta. Dengan penderita epilepsy baru 275.000 penderita per tahun. Dari sekian banyaknya jumlah penderita epilepsy, kasus epilepsi lebih banyak ditemukan pada anak-anak, dibandingkan orang dewasa.

Secara medis, epilepsi merupakan sebuah ganggaun fisik yang menyerang bagian otak manusia. Epilepsy bukan ganggaun mental, penyakit ini tidak menular melewati air liur, atau melalui perantara lain. Epilepsy dari beberapa literatur yang ada sudah ditemukan sekitar 3000 tahun yang lalu, di Yunani dan Babilonia. Berlajut lagi di masa pertengahan, di negara-negara Eropa epilepsi juga dikaitkan dengan mistik. Bahkan dokter pribadi dari George Washington Presiden Amerika Serikat Pertama, masih memberikan cincin pada anaknya yang mengalami epilepsi.

Avicenna tahun 980-1037, baru mengatakan bahwa epilepsy disebabkan oleh terjadi kerusakan otak, yang kemudian mengakibatkan ganggaun gerak pada pasiennya. Dan untuk pertama kalinya epilepsy masuk ke Jurnal Ilmiah tahun 1800, dan kusus epilepsy pada anak tahun 1917. Berikut ini beberapa tokoh dunia yang mengalami epilepsi; Alexander, Caesar, dan dari Indonesia atlet judo Krisna Bayu.

Tanda dan Gejala

Epilepsi merupakan suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan berulang, berselang lebih dari 24 jam dan timbul tanpa adanya provokasi. “Bangkitanya itu tidak boleh di hari yang sama saja. Seranganya harus stereotipik,” jelas Dr. Ibnu Benhadi SpBS, Pakar Epilepsi Lamina Group.

“Otak memiliki milyaran sel saraf. Supaya bisa berkomunikasi satu sama lain, maka terjadilah aliran listrik yang kecil. Tegangannya tidak besar hanya dalam mikro volt. Nah, bila aliran listriknya tidak normal atau seimbang, terjadilah epilepsi,” ujar dr. Ibnu.

Gejala epilepsi atau bangkitan epilepsy (epileptic seizure) terbagi menjadi beberapa kondisi yaitu partial seizure, general tonic clonic seizure, tonic seizure, absence seizure. Mudahnya, gejalanya mulai dari kejang, terkejut, anak tiba-tiba melamun atau tubuh kaku sementara. “Gejalanya tergantung saraf apa yang terganggu aliran listriknya. Misal, kalau motorik, tangannya kejang. Jika sensorik, anak tersebut tiba-tiba melamun sementara,” jelas dr. Ibnu.

Tapi apakah semua kejang adalah tanda epilepsy? Belum tentu. Dijelaskan dr. Ibnu, kejang sebagai epileptic seizure terjadi berulang, berselang 24 jam dan stereotipik. “Stereotipik contohnya, hanya tangan saja yang kejang. Jika 24 jam kemudian yang kejang bukan tangan lagi melainkan kaki, ini tidak stereotipik dan bukan epilepsy,”. Biasanya kejang diawali tubuh yang menegang, lalu mulai mengejang. Kondisi ini berlangsung 1 sampai 3 menit. Paling lama 5 menit. “Yang jelas kejang terjadi secara spontan tanpa provokasi dari penyakit lain seperti demam,” jelasnya.

Tipe Epilepsi

Otak manusia, memiliki bagian dan fungsinya sendiri-sendiri, seperti digunakan untuk fungsi bahasa, motorik dan lain-lain. Pada penderita epilepsy bangkitan di sebabkan oleh karena ketidak seimbangan antara aktifitas listrik positif dan negatif. Hal ini bisa diakibatkan oleh beberapa hal, seperti; stroke, infeksi atau diakibatkan oleh trauma. “Jadi epilepsy bukan merupakan penyakit menular, kutukan atau gangguan kejiwaan. Bahkan epilepsy bisa diobati,” tambah dr. Ibnu.

Jenis epilepsy absence muncul jika seseorang bernafas terlalu cepat dan dalam. “Absence masuk ke dalam jenis epilepsi general karena tidak bisa berkomunikasi dengan orang di luar saat bangkitan terjadi,” jelas dr. Ibnu. Bangkitan lain adalah Atonia (tidak ada kekuatan otot). Jika pasien mengalami epilepsi atonia, ia kemana-mana harus memakai helm. Menurut dr. Ibnu, perlu kehati-hatian pada anak dengan atonia” tambahnya.

Namun tidak semua epilepsi ditandai dengan kejang, dan tidak semua kejang adalah epilepsy. Kejang demam biasa muncul pada anak usia 4 bulan. Dan umumnya akan sembuh dengan sendirinya pada usia 6 tahun. Jika kejang yang timbul pada anak disertai demam umumnya itu bukan merupakan epilepsy.

20 Comments

  • Doni ismayanto Agustus 19, 2019 @ 1:37 pm

    Selamat siang dokter sy dony yg saat ini putri sy sdg dirawat di rumah sakit akibat kejang yg sy kwatirkan krn dlm 1 hari itu mengalami kejang 2 kali oleh krna itu sy ambil tindakan untuk rawat inap,yg sy ingin tanya apakah diare itu dpt menyebabkan kejang jg krn ank sy kejang pd saat PUP trs sebelum kejang,dan kejang anak sy tanpa demam.mohon infonya diagnosanya anak sy dokter.

    • Bedah Epilepsi September 20, 2019 @ 5:51 pm

      Seharusnya tidak, namun jika sampai dalam kondisi dehidrasi berat kemungkinan itu ada. terimakasih

  • susiana Agustus 20, 2019 @ 10:28 am

    Adakah pengobatan disamping obat,selain bedah epilepsi?

    • Bedah Epilepsi September 20, 2019 @ 5:49 pm

      Terapi ada beberapa macam. ada dengan laser. terimakasih

  • Agus Agustus 28, 2019 @ 5:47 pm

    Dok mau tanya biasanya tingkat kesadaran nya berapa jam ya? Maksih sebelum nya

    • Bedah Epilepsi September 20, 2019 @ 5:48 pm

      Maksudnya tingkat kesadaran? paska tindakan operasi atau bagaimana?

  • mohamad agung setiawan Agustus 29, 2019 @ 8:35 am

    Saya brapa bulan ini kejang dan sering pelupa brobat di diagnosa TLE sudah EEG dan rekomendasi untuk MRI, apakah termasuk epilepsi dan bisa sembuh dok

    • Bedah Epilepsi September 20, 2019 @ 5:48 pm

      Kemungkinan iya pak, bisa dikontrol bangkitan kejangnya pak. Terimakasih

  • Ade Agustus 29, 2019 @ 4:58 pm

    Dokter, dokter saraf saya mengatakan kalau saya menderita epilepsi campuran, dengan tanda terkejut,bengong, lemah otot, saya sudah mengkonsumsi obat selama 8tahun, kenapa belum sembuh juga,
    Mohon dokter memberikn saran, apa obat yang harus saya konsumsi.
    Terimakasih dokter.

    • Bedah Epilepsi September 20, 2019 @ 5:47 pm

      Saat obat tidak bisa mengatasi bangkitan kejangnya. Sebaiknya lakukan pemeriksaan di klnik kami untuk menentukan apakah bedah memiliki tempat untuk kasus bapak/ibu. Terimakasih

  • Eka Agustus 30, 2019 @ 10:57 am

    Kalo diderita sejak kecil dan sampai dewasa apakah ini g bahaya dok,apakah g menular atau itu bisa nurun ke anak g dok

    • Bedah Epilepsi September 20, 2019 @ 5:46 pm

      Epilepsi tidak dapat ditularkan. Harus dipastikan bangkitan kejangnya terkontrol dengan baik.

  • Risman Agustus 30, 2019 @ 11:41 am

    Gmn cara mnyembuhkn epilepsi karna benturan

    • Bedah Epilepsi September 20, 2019 @ 5:45 pm

      Terapi untuk kondisi ini bisa dengan obat anti epilepsi hingga dengan pembedahan. Terimakasih

  • Sri yunita hasan basri Agustus 30, 2019 @ 2:36 pm

    Epilepsi bagi orang tua yang baru terjadi

    • Bedah Epilepsi September 20, 2019 @ 5:44 pm

      Terapi bisa dengan obat anti epilepsi silahkan datang ke klnik kami untuk terapi leih lanjut. Terimakasih

  • Mahdhal September 3, 2019 @ 9:02 am

    Apakah penyakit ini bisa disembuhkan dok ?

    • Bedah Epilepsi September 20, 2019 @ 5:44 pm

      Epilepsi bisa dikontrol bangkitan atau kejangnya. baik dengan obat maupun dengan pembedahan.

  • Ryan Phoa September 3, 2019 @ 12:04 pm

    Dok saya Ryan Phoa ingin meminta pendapat, sudah empat kali saya ke dokter, tapi belum menemukan obat yang pas, sampai kapankah biasanya kita dapat menemukan obat yang cocok dengan kita? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa sembuh? Terima kasih dok

    • Bedah Epilepsi September 20, 2019 @ 5:43 pm

      mohon maaf baru bisa membalas. harus dipastikan dulu jenis bangkitannya. ketika obat tidak memberikan hasil dalam mengkontrol kejangnya, terapi yang dapat dilakukan selanjutnya adalah dengan pembedahan. Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *