EPILEPSI

Epilepsi pada anak masih menjadi pertanyaan besar, bagi masyarakat Indonesia, bahkan kondisi ini tak pelak menjadi buah bibir dan tak jarang kemudian dikaitkan dengan stigma negatif, seperti; kerasukan setan, bisa menular jika kena air liurnya, dan masih banyak hal lain yang tidak masuk akal. Masih ingat dengan iklan di televisi, “Ayo di kita main bola lagi” tujuannya untuk mengedukasi masyarakat mengenai epilepsi, bahwa epilepsi itu bukan penyakit menular, bahkan bisa sembuh ketika diobati secara adekuat dan bila terdiagnosis sejak dini.

Dengan pendududuk Indonesia berkisar 270 juta jiwa. Di perkirakan penderita epilepsi di Indonesia jumlahnya mencapai 2,2 juta. Dengan penderita epilepsi baru 275.000 penderita per tahun. Dari sekian banyaknya jumlah penderita epilepsi, kasus epilepsi lebih banyak ditemukan pada anak-anak, dibandingkan orang dewasa.

Secara medis, epilepsi merupakan sebuah ganggaun fisik yang menyerang bagian otak manusia. Epilepsi bukan ganggaun mental, penyakit ini tidak menular melewati air liur, atau melalui perantara lain. Epilepsi dari beberapa literatur yang ada sudah ditemukan sekitar 3000 tahun yang lalu, di Yunani dan Babilonia. Berlajut lagi di masa pertengahan, di negara-negara Eropa epilepsi juga dikaitkan dengan mistik. Bahkan dokter pribadi dari George Washington Presiden Amerika Serikat Pertama, masih memberikan cincin pada anaknya yang mengalami epilepsi.

Avicenna tahun 980-1037, baru mengatakan bahwa epilepsi disebabkan oleh terjadi kerusakan otak, yang kemudian mengakibatkan ganggaun gerak pada pasiennya. Dan untuk pertama kalinya epilepsi masuk ke Jurnal Ilmiah tahun 1800, dan kusus epilepsi pada anak tahun 1917. Berikut ini beberapa tokoh dunia yang mengalami epilepsi; Alexander, Caesar, dan dari Indonesia atlet judo Krisna Bayu.

Tanda dan Gejala

Epilepsi merupakan suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan berulang, berselang lebih dari 24 jam dan timbul tanpa adanya provokasi. “Bangkitanya itu tidak boleh di hari yang sama saja. Seranganya harus stereotipik,” jelas Dr. Ibnu Benhadi SpBS, Pakar Epilepsi Lamina Group.

“Otak memiliki milyaran sel saraf. Supaya bisa berkomunikasi satu sama lain, maka terjadilah aliran listrik yang kecil. Tegangannya tidak besar hanya dalam mikro volt. Nah, bila aliran listriknya tidak normal atau seimbang, terjadilah epilepsi,” ujar dr. Ibnu.

Gejala epilepsi atau bangkitan epilepsi (epileptic seizure) terbagi menjadi beberapa kondisi yaitu partial seizure, general tonic clonic seizure, tonic seizure, absence seizure. Mudahnya, gejalanya mulai dari kejang, terkejut, anak tiba-tiba melamun atau tubuh kaku sementara. “Gejalanya tergantung saraf apa yang terganggu aliran listriknya. Misal, kalau motorik, tangannya kejang. Jika sensorik, anak tersebut tiba-tiba melamun sementara,” jelas dr. Ibnu.

Beda Epilepsi dengan Kejang Biasa

Tapi apakah semua kejang adalah tanda epilepsi? Belum tentu. Dijelaskan dr. Ibnu, kejang sebagai epileptic seizure terjadi berulang, berselang 24 jam dan stereotipik. “Stereotipik contohnya, hanya tangan saja yang kejang. Jika 24 jam kemudian yang kejang bukan tangan lagi melainkan kaki, ini tidak stereotipik dan bukan epilepsi,”. Biasanya kejang diawali tubuh yang menegang, lalu mulai mengejang. Kondisi ini berlangsung 1 sampai 3 menit. Paling lama 5 menit. “Yang jelas kejang terjadi secara spontan tanpa provokasi dari penyakit lain seperti demam,” jelasnya.

Otak manusia, memiliki bagian dan fungsinya sendiri-sendiri, seperti digunakan untuk fungsi bahasa, motorik dan lain-lain. Pada penderita epilepsi bangkitan di sebabkan oleh karena ketidak seimbangan antara aktifitas listrik positif dan negatif. Hal ini bisa diakibatkan oleh beberapa hal, seperti; stroke, infeksi atau diakibatkan oleh trauma. “Jadi epilepsi bukan merupakan penyakit menular, kutukan atau gangguan kejiwaan. Bahkan epilepsi bisa diobati,” tambah dr. Ibnu.

Jenis epilepsi absence muncul jika seseorang bernafas terlalu cepat dan dalam. “Absence masuk ke dalam jenis epilepsi general karena tidak bisa berkomunikasi dengan orang di luar saat bangkitan terjadi,” jelas dr. Ibnu. Bangkitan lain adalah Atonia (tidak ada kekuatan otot). Jika pasien mengalami epilepsi atonia, ia kemana-mana harus memakai helm. Menurut dr. Ibnu, perlu kehati-hatian pada anak dengan atonia” tambahnya.

Namun tidak semua epilepsi ditandai dengan kejang, dan tidak semua kejang adalah epilepsi. Kejang demam biasa muncul pada anak usia 4 bulan. Dan umumnya akan sembuh dengan sendirinya pada usia 6 tahun. Jika kejang yang timbul pada anak disertai demam umumnya itu bukan merupakan epilepsi.