Pemeriksaan EEG, Apa Itu dan Mengapa Dilakukan pada Epilepsi?

23Agu, 2019

Terapi bedah epilepsi merupakan salah satu opsi untuk mengatasi serangan kejang pada penderita epilepsi.

Terapi bedah pada kasus epilepsi dikhususkan pada epilepsi yang dengan pemberian obat antiepilepsi (OAE) menunjukkan tidak ada perbaikan. Terdapat beberapa jenis epilepsi yang memiliki kemungkinan perbaikan setelah menjalani tindakan bedah epilepsi.

Namun sebelum memastikan tindakan bedah ini merupakan penanganan yang tepat, dokter perlu melakukan beberapa pemeriksaan, yang salah satunya adalah elektroensefalogram (EEG).

Elektroensefalografi (EEG) adalah suatu teknik untuk merekam aktivitas listrik di bagian otak dan mengubah informasi tersebut menjadi suatu pola digital atau tercatat di atas kertas yang disebut dengan elektroensefalogram. Alat yang merekam aktivitas listrik di otak ini disebut ensefalograf.

Pemeriksaan EEG (disebut juga dengan tes gelombang otak) merupakan salah satu tes diagnostik utama pada epilepsi dan penting untuk menentukan jenis kejang, dapat membantu menemukan kelainan struktural, fungsional, metabolik yang terjadi di otak, seperti demensia, cedera kepala, infeksi, tumor, gangguan tidur, penyakit degeneratif, dan gangguan metabolik yang mengganggu fungsi otak.

Tes yang dilakukan dengan menempelkan elektroda di sekeliling kepala ini juga dapat membantu para dokter untuk mendiagnosis adanya masalah pada aktivitas listrik di otak, yang salah satunya dialami oleh orang dengan epilepsi (ODE).

Seperti diketahui, di dalam otak manusia terdapat neuron atau sel-sel saraf yang merupakan bagian dari sistem saraf. Setiap sel saraf saling berkomunikasi dengan menggunakan impuls listrik. Kejang epilepsi terjadi karena adanya gangguan sistem saraf pusat akibat perubahan pola aktivitas listrik otak. Dengan EEG inilah, perubahan aktivitas listrik ini dapat diketahui.

Tes EEG ini tidak invasif, tidak menyakitkan, tidak berbahaya, dan tidak memiliki efek jangka panjang.

Menurut Epilepsy Foundation, biasanya tes ini berlangsung sekitar 20 hingga 40 menit dan diperkirakan dengan persiapan, tes ini memakan waktu 1 hingga 1,5 jam.

Pentingnya EEG pada epilepsi antara lain membantu menemukan tempat aktivitas listrik otak yang abnormal, menentukan jenis kejang dan jenis epilepsi, begitu pula dapat membantu menentukan pilihan obat antiepilepsi (OAE) dan perjalanan penyakit epilepsi.

Memahami Gelombang EEG

Rekaman EEG menunjukkan beragam jenis gelombang otak dan gelombang ini merupakan segala jenis aktivitas otak, yang muncul dalam bentuk gelombang pada rekaman EEG. Beberapa gelombang otak terjadi pada waktu-waktu tertentu atau di berbagai area otak dan setiap jenis gelombang terlihat berbeda pada EEG.

Gelombang apa saja yang terekam dalam EEG?

  • Gelombang Alfa, merupakan gelombang khas yang terlihat pada orang dewasa yang santai dengan mata tertutup. Gelombang ini paling jelas di lobus oksipital (bagian otak yang berperan dalam penglihatan).
  • Gelombang Beta, terlihat pada orang yang terjaga (tidak tertidur), dengan mata terbuka atau tertutup. Gelombang ini terlihat di lobus frontal (bertanggungjawab untuk pemikiran dan kesadaran) dan di area pusat otak. Diperlukan saat otak berpikir/konsentrasi, rasional, dan tidak mengantuk.
  • Gelombang Theta, dan juga disebut aktivitas lambat. Gelombang theta terjadi selama tidur ringan/sangat mengantuk dan tidur bermimpi. Gelombang theta juga ada terjadi pada orang yang mempunyai penyakit otak degeneratif.
  • Gelombang Delta, merupakan tipe gelombang paling lambat tetapi memiliki amplitudo tertinggi (sinyal terkuat). Gelombang ini umumnya terjadi pada anak dibawah satu tahun dan terjadi di beberapa tahapan tidur atau saat tidur lelap tanpa mimpi, koma.
  • Gelombang Gamma berada pada frekuensi 26-100 gelombang per detik. Timbul pada saat seseorang dalam aktivitas mental yang tinggi, misalnya saat ikut serta dalam pertandingan.

Persiapan EEG

Sebelum melakukan EEG, dokter akan menganjurkan:

-Hindari minum minuman berkafein, misalnya kopi, sekitar 8 jam sebelumnya.

-Tidak menggunakan jel, minyak, spray, pada rambut.

-Diminta mengurangi jam tidur sebelumnya karena pasien akan diminta untuk tidur selama tes ini berlangsung

-Bila mengonsumsi obat-obatan tertentu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu

Memahami Hasilnya

Hasil EEG dikatakan normal (Jan Nissl, 2006), bila:

  • Hasil dua sisi otak menunjukkan pola aktivitas listriknya serupa
  • Pada dewasa saat terjaga, gelombang alfa lebih banyak disbanding dengan gelombang Beta
  • Tidak ada gambaran gelombang abnormal dan tidak ada gelombang yang lambat
  • Jika pasien dirangsang, misalnya dengan games, sorotan lampu, gelombangnya tetap normal

Hasil dikatakan tidak normal (Fisch, 1999), bila terekam gelombang berbentuk tajam (sharp waves), berbentuk paku (spike waves), dan gabungan bisa gelombang paku-ombak, gelombang paku majemuk, dan gelombang lambat yang timbul secara berulang, dan tidak menunjukkan gelombang aktivitas elektrik.

Hasil EEG yang tidak normal ini dapat disebabkan oleh epilepsi atau kelainan kejang lainnya, perdarahan abnormal, gangguan tidur, ensefalitis, tumor, migren, dan cedera kepala.

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi hasil rekaman EEG, yakni usia, jenis epilepsi dan tipe kejang, jarak kejang terakhir dengan pemeriksaan EEG, penundaan OAE dan obat-obatan tertentu. (*berbagai sumber)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *