Pengobatan Penyakit Epilepsi Secara Umum

29Agu, 2019

Memilih pengobatan antiepilepsi sangat bergantung pada jenis kejang yang dialami penderita. Perawatan dengan obat-obatan atau kadang-kadang pembedahan dapat mengontrol kejang pada sebagian besar penderita epilepsi.

Ada penderita yang butuh perawatan sepanjang hidupnya untuk mengontrol kejang, namun ada juga yang akhirnya tidak mengalami kejang lagi. Pada sebagian anak yang menderita epilepsi mungkin bisa mengatasi kondisinya seiring bertambahnya usia.

Sangatlah penting menentukan jenis kejang untuk fokus pada pendekatan diagnostik terhadap faktor etiologi tertentu; untuk memilih terapi pengobatan yang sesuai; untuk mengadakan penelitian ilmiah yang membutuhkan gambaran klinis dan fenotip EEG; dan untuk menyediakan informasi penting yang berkaitan dengan prognosis.

Tujuan Pengobatan Epilepsi      

Terapi dengan obat antiepilepsi (OAE), yang merupakan pengobatan bagi sebagian besar penderita, bertujuan untuk membantu:

  • menghilangkan bangkitan/kejang,
  • mengurangi frekuensi bangkitan dengan efek samping minimal atau mengurangi kejadian kambuhan
  • menolong penderita mempertahankan dan mengembalikan aktivitas psikososial dan keahlian
  • tercapainya kualitas hidup optimal

Obat antiepilepsi ini terbagi ke beberapa golongan, antara lain barbiturat, hidantoin, oksazolindindion, suksinimid, karbamazepin, dan ada juga yang termasuk ke dalam obat antiepilepsi generasi kedua seperti gabapentin, dan lainnya.

 

Baca Juga : Usia Dewasa Tak Luput dari Serangan Epilepsi

 

Kapan Untuk Memulai Pengobatan Antiepilepsi?

Prinsipnya (seperti yang tertulis dari hasil beberapa penelitian), langkah pertama dalam pengobatan adalah diagnosis pasti karena banyak kondisi lain yang mirip dengan epilepsi. Pengobatan umumnya diberikan setelah bangkitan yang kedua. Hal ini penting karena pengobatan epilepsi dilakukan untuk jangka panjang.

Kemudian, tentukan jenis bangkitan karena obat antiepilepsi memiliki kekhususan masing-masing, itu sebabnya pemilihan obat bergantung pada jenis kejang pada epilepsies. Awalnya diberikan dengan dosis kecil serta kemungkinan akan ditingkatkan secara bertahap.

Obat antiepilepsi ini terbagi ke beberapa golongan, antara lain barbiturat, hidantoin, oksazolindindion, suksinimid, karbamazepin, dan ada juga yang termasuk ke dalam obat antiepilepsi generasi kedua seperti gabapentin, dan lainnya.

Pada sekitar 70 persen penderita epilepsi, obat-obat bisa mengontrol kejang mereka. Namun, tidak dapat mengobati epilepsi itu sendiri, dan kebanyakan penderita memerlukan pengobatan berkelanjutan.

Diagnosis yang tepat pada jenis epilepsi (bukan hanya dari jenis kejang, karena kebanyakan jenis kejang terjadi pada jenis-jenis epilepsi berbeda) dari seorang penderita adalah hal sangat penting dalam memilih pengobatan terbaik. Jenis pengobatan yang ditentukan juga akan bergantung pada beberapa faktor spesifik bagi setiap penderita, seperti adanya penyakit lain yang dideritanya, dan metode pengantaran mana yang bisa diterima.

Idealnya obat antiepilepsi bisa meredam semua kejang tanpa menyebabkan efek berlawanan yang tidak diinginkan.

Keberhasilan terapi akan lebih besar pada penderita yang baru didiagnosis epilepsi, dan angka keberhasilan tersebut bergantung pada jenis kejang, riwayat keluarga, dan tingkat ketidaknormalan saraf.

Biasanya dokter membutuhkan waktu beberapa bulan sebelum menentukan jenis obat terbaik dan dosis yang cocok bagi seorang penderita epilepsi. Selama masa menunggu itu, penderita akan diawasi dan menjalani tes darah secara rutin untuk mengukur respons terhadap obat.

Itu sebabnya penderita harus terus berhubungan dengan dokter dan laboratorium untuk meminimalkan risiko terhadap efek samping yang serius dan mencegah komplikasi.

Bila kejang tetap terjadi meski telah menjalani perawatan epilepsi, hal itu mungkin disebabkan oleh kejang yang bukan-epilepsi atau obat tersebut perlu disesuaikan lagi. Dalam kasus demikian, penderita harus mencari pendapat dari dokter lain dan menjalani tes EEG (electroencephalogram), sehingga diagnosis dapat dievaluasi ulang.

Bagaimanapun keteraturan minum obat sesuai resep, diminum sesuai dosis yang ditetapkan oleh dokter, dan kontrol teratur akan membuat penderita epilepsi bisa tetap menjalani kehidupan dengan baik.

Penghentian obat-obatan antiepilepsi sebaiknya dilakukan di bawah pengawasan dokter, karena bila dihentikan mendadak berisiko picu kekambuhan serangan yang lebih berat. (*Berbagai sumber)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *