Perlunya Catatan Kejang pada Penderita Epilepsi

23Agu, 2019

Mengalami epilepsi pada waktu-waktu tertentu dapat mempertinggi risiko keselamatan orang dengan epilepsi (ODE).

Meski penyebab epilepsi sangat bervariasi, namun penderitanya mungkin bisa melacak penyebab epilepsinya dari berbagai faktor berikut ini:

  • Beberapa jenis epilepsi terjadi akibat ketidaknormalan pada bagian otak tertentu, bisa jadi diturunkan secara genetik. Para ahli telah mengaitkan sebagian jenis epilepsi pada gen-gen tertentu. Namun, pada kebanyakan orang, gen hanya merupakan bagian yang mengalami epilepsi. Gen-gen tertentu mungkin menyebabkan seseorang lebih peka terhadap kondisi lingkungan yang menjadi pemicu kejang.
  • Trauma kepala akibat tabrakan kendaraan atau benturan hebat bisa menyebabkan epilepsi.
  • Kondisi otak dapat menyebabkan kerusakan pada otak, seperti tumor atau stroke, bisa menyebabkan epilepsi. Stroke adalah penyebab terbesar epilepsi pada orang dewasa di atas usia 35 tahun.
  • Penyakit infeksi, seperti meningitis, AIDS, dan radang otak akibat virus, bisa menyebabkan epilepsi.
  • Luka sebelum persalinan. Sebelum persalinan, bayi peka terhadap kerusakan otak yang mungkin disebabkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi pada ibu, malnutrisi, atau kurang oksigen. Kerusakan otak seperti itu bisa menyebabkan epilepsi atau serebral palsi.
  • Gangguan perkembangan. Epilepsi bisa dikaitkan dengan gangguan perkembangan, seperti autisme dan neurofibromatosis.

Bila seseorang mendapati dirinya mengalami gejala epilepsi, ataupun yang sudah menjadi penderitanya, tak perlu berkecil hati. Yang bisa membantu mengatasi keadaan epilepsi adalah dengan membiasakan diri membuat catatan bilamana terjadi kejang. Catatan itu akan membantu dokter mengetahui jenis epilepsi yang dialami penderita dan menetapkan pengobatannya.

Catat Setiap Informasi

Catatan kejang epilepsi adalah cara terbaik untuk mencatat setiap informasi tentang epilepsi yang dialami penderita. Bisa dilakukan oleh penderita sendiri maupun anggota keluarganya.

Buatlah catatan, misalnya:

  • Kapan kejang terjadi dan kejang seperti apa yang terjadi
  • Berapa lama terjadinya
  • Kapan mengganti obat epilepsi
  • Efek samping dari obat epilepsi
  • Kemungkinan pemicu lain terjadinya kejang
  • Waktu haid, bila diduga mungkin menyebabkan terjadinya kejang.
  • Bisa dengan bantuan keluarga/teman untuk merekam saat kejang terjadi.

Letakkan catatan tersebut pada tempat yang mudah dijangkau oleh anggota keluarga bilamana diperlukan saat mengantarkan penderita ke dokter. Biarkan dokter atau ahli epilepsi melihat catatan tersebut dengan mudah. Semakin lengkap catatan tersebut tentunya akan sangat membantu penderitaan penderita epilepsi yang memang sangat membutuhkan bantuan dari keluarga di sekitarnya.

Menurut studi terbesar tentang siklus kejang pada pasien individual pada lebih dari 1.000 orang, yang diterbitkan oleh jurnal The Lancet Neurology, pada sekitar 80 persen penderita epilepsi waktu terjadinya kejang mungkin berkaitan dengan ritme alami tubuh.

Kebanyakan kejang terjadi dalam ritme sirkadian (selama 24 jam), namun sebagian orang mengalami kejang mingguan dan setiap tiga minggu, dan ada yang mengalami kombinasi kejang harian, mingguan, atau siklus yang lebih lama.

Catatan kejang setiap penderita epilepsi yang sangat bervariasi dari hari ke hari, bulan, dan tahun, bisa membantu dokter dan ahli epilepsi mempelajari perkembangan epilepsi dengan lebih baik. Selain tentunya akan sangat membantu kesempatan pengobatan penderita itu sendiri.

Kaitan antara kejang epilepsi dan siklus alami lain telah dipelajari selama ratusan tahun. Belum lama ini telah diketahui hubungan yang tepat yang berkaitan dengan level stres, kualitas tidur, dan proses-proses biologi lain yang mencakup tidur, menstruasi, dan hibernasi.

Menurut Profesor Mark Cook, dari Universitas Melbourne, Australia, “Memahami siklus alami penyakit sangat penting untuk mengobati penyakit seperti epilepsi yang berubah-ubah terus-menerus tingkat kepelikannya.”

Menurut suatu studi, penderita epilepsi dengan kejang mengikuti siklus sirkadian, waktu puncak kejang bervariasi sepanjang hari, namun lebih banyak terjadi kejang antara pukul 8 pagi dan 8 malam.

Siklus mingguan tidak menentukan hari tertentu tiap minggunya, namun banyak penderita mengalami kejang pada hari Selasa dan Rabu. Keadaan tersebut sama bagi penderita laki-laki dan perempuan, dan bagi penderita dari berbagai jenis epilepsi.

Segera ke Dokter

Segera bawa ke rumah sakit atau dokter bila penderita epilepsi mengalami serangan kejang dengan tanda-tanda berikut ini:

  • Kejang terjadi lebih dari lima menit
  • Tetap kesulitan napas atau kesadaran belum pulih setelah kejang berhenti
  • Segera terjadi kejang kedua
  • Mengalami demam tinggi
  • Merasa kepanasan
  • Sedang hamil
  • Punya riwayat diabetes
  • Melukai diri sendiri selama mengalami kejang.

Jangan lupa membawa catatan kejang penderita untuk ditunjukkan kepada dokter atau paramedis yang menanganinya. (*Berbagai sumber)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *